Menpelajari Budaya Indonesia Melaui Teknologi Terkini Dengan Baik

Menpelajari Budaya Indonesia Melaui Teknologi Terkini Dengan Baik

Budaya literasi sekolah dalam konteks perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah karya yang ditulis oleh Prof. Dr. Riswanda Setiadi, Master of Arts, pada acara pembukaan Guru Besar Universitas Normalia Indonesia.

Mengangkat guru besar guru Besar Universitas Pedagogi Indonesia, dimulai dari Jurusan Literasi Bahasa, sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia n ° 291 / M / KP / 2019. Peringkat Universitas Pusat Connecticut Indonesia Urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei.

Menyatakan Kemampuan Keterampilan Berbicara

Menpelajari Budaya Indonesia Melaui Teknologi Terkini Dengan Baik

Indonesia tinggal selangkah lagi dari Botswana. Sungguh menyedihkan dan menggelikan jika data ini benar-benar menjelaskan situasi literasi di Indonesia saat ini, karena menunjukkan betapa orang Indonesia dan buku itu berbeda. Pada awal tahun 2014, UNESCO menyatakan bahwa anak-anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun dan menghabiskan 2-4 jam membaca setiap hari, sedangkan standar adalah 4,6 jam sehari, sedangkan anak-anak di negara maju membaca 6-8 jam sehari. .

Hasil berbagai survei tersebut menunjukkan bahwa literasi merupakan masalah utama dalam dunia pendidikan Indonesia. Sentimen publik tentang mengembangkan kemampuan membaca dan menulis anak merupakan realitas sosial yang penting, tetapi fakta ini jarang didukung oleh reaksi politik yang serius dan meluas. Tentu saja, situasi ini tidak dapat dengan mudah diperbaiki, terutama dalam konteks keterampilan berbicara yang banyak digunakan dalam berbicara dan bernalar.

Organisasi Kebutuhan Pengembangan Masyarakat

Namun praktik ini harus diubah dan ditingkatkan agar masyarakat dan pemerintah Indonesia tidak selalu mempermalukan dunia setiap kali beberapa organisasi internasional mempublikasikan data literasi. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa membaca buku masih menjadi kebutuhan untuk membaca, padahal banyak sekali bahan bacaan di internet yang sepertinya Anda lewatkan. Ternyata hasil peneliti menunjukkan bahwa membaca online tidak berkontribusi pada pengembangan pemikiran kritis dan pemahaman pembaca tingkat profesional.

Namun saya bersyukur karena pemerintah merespon dengan cepat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang secara antusias diintegrasikan dan diimplementasikan di banyak sekolah di Indonesia. Dalam konteks bahasa Indonesia, banyak faktor yang harus diperhatikan dalam mengukur tingkat literasi seseorang dalam suatu masyarakat seperti masalah sosial, budaya, ekonomi dan akademik. Hal-hal ini tampaknya juga berhubungan.

Baca Juga : Kemajuan Budaya Indonesia Dengan Teknologi Tercanggih

Menunjukkan Keberhasilan Informasi Teknologi

Salah satunya adalah akses ke bahan bacaan di rumah, di sekolah, dan di tempat lain, yang memungkinkan orang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan membaca dan menulis. Elemen ini menciptakan lingkungan yang beragam yang dapat mendorong anak-anak atau orang dewasa untuk terus membaca. Poin kedua adalah berlatih membaca di rumah. Bukti menunjukkan bahwa jika anak mempersiapkan sejak dini untuk belajar membaca di rumah, mereka akan siap secara akademis dan mental saat mereka mencapai usia sekolah. Dean, 2000. Dua masalah terakhir adalah pembelajaran dan situasi keuangan. Sekolah dan guru sering kali menentukan keberhasilan anak dalam pekerjaan sehari-hari menulis dan menulis untuk berbagai keperluan dan kebutuhan.

Jika sekolah menjadi tempat yang mendorong semua anak untuk membaca dan menulis, mereka hanya bisa menjadi sarjana jika guru, kepala sekolah dan orang dewasa di sekolah menjadi teladan dalam kegiatan literasi mereka. Poin terakhir adalah situasi ekonomi, yang seringkali dikaitkan dengan daya beli dan akses masyarakat terhadap sumber bacaan. Namun demikian, kita tidak dapat menyangkal bahwa keberadaan teknologi informasi dan komunikasi, beserta sistem dan perangkatnya yang canggih mengalihkan perhatian orang untuk membaca apa yang mereka baca di layar yang menarik seperti komputer, laptop, telepon seluler, dan sejenisnya. Kebanyakan pendatang baru dalam literasi kini telah beralih ke mesin pencari untuk mendapatkan informasi sesuai kebutuhan mereka. Praktik literasi masih dilakukan dengan menggunakan teknologi ini, namun masih jauh dari membaca cetak. Di banyak negara maju, seperti Finlandia, Amerika Serikat, dan Jepang, akses teknologi informasi dan komunikasi tidak menghalangi orang untuk belajar.

Share Post